Sunday, October 25, 2015

Budaya Merokok di Indonesia (Vanguard)

Tulisan ini merupakan intisari dari film dokumenter yang berjudul Vanguard Sneak Peek yang dirilis pada tahun 2011. Pada pembukaan dokumenter dilihatkan video bayi fenomenal dari Indonesia yang baru berumur 2 tahun, namun sudah terbiasa menghabiskan rokok 2 pack per harinya. Aldi Rizal namanya. Aldi adalah seorang anak dipedalaman Sumatra yang menjadi perhatiaan dunia saat videonya yang asik merokok dirilis di internet pada pertengahan tahun 2010.

Sang Jurnalis yang berasal dari Amerika menggambarkan bagaimana kebiasaan atau budaya merokok di Amerika sudah turun drastis. Penurunan angka perokok di Amerika disebabkan karena peraturan pemerintah yang ketat dan pemberian pajak yang tinggi, sehingga harga rokok per pack 12 $ (ini kisaran tahun 2010-2011, klo sekarang pasti lebih mahal). Di Amerika digambarkan di sangat jarang bahkan mungkin tidak ada iklan yang menayangkan iklan mengenai rokok tertentu. Walau pun Amerika awalnya sangat terkenal sebagai negara Malboro, namun karena kebijakan yang begitu ketat dari daerah asalnya, prusahaan milik Philips Morris ini berusaha mengembangkan sayap bisnisnya di negara-negara berkembang dan miskin untuk menutupi kerugian di negaranya. Salah satu negara tujuan bisnisnya adalah Indonesia.

Setiba di Indonesia sang jurnalis Amerika ini merasa seakan kembali ke waktu lampau (kemunduran), dimana saat turun bandara di Jakarta, begitu banyak poster, baliho, atau iklan berbagai merek rokok. Baik itu dijalan besar, gang-gang bahkan di pedesaan. Di Indonesia sang jurnalis dinemani seorang wanita aktifis pengontrol tembako Ita Rahma, digambarkan bagaimana budaya atau kebiasaan merokok di Indonesia. Diperlihatkan di Indonesia seakan tidak ada pengawasan, warung yang menjual rokok bersebelahan dengan sekolah, iklan rokok begitu gencar dimana-mana.
Target dari iklan yang ditampilkan pada umumnya adalah kaum muda, terbukti dari kegiatan-kegiatan yang banyak disponsori rokok, dari sepak bola, live konser. Saat ditanya bagaimana kemudahan dalam membeli rokok, pak Rudi seorang aktifis perlindungan anak mencontohkan langsung. Pak rudi memanggil anak kecil kisaran usia 7 tahun untuk membelikan 1 pack rokok di kios terdekat. Menunjukkan begitu mudahnya untuk membeli rokok. Di Amerika sendiri untuk menggurangi perokok muda, Philip Morris menghilangkan/ mempensiunkan 2 ikon terkenal yang amat berpengaruh untuk anak muda yaitu Camel dan Malboro Man.

Diceritakan juga perusahan Philips Morris membeli perusaahaan rokok terbesar di Indonesia yaitu Sampoerna seharga 5 miliar dolar. Hal ini menunjukan begitu gencarnya dan sangat berkembangnya bisnis dibidak tembakau rokok ini. Saat sang jurnalis menanyakan pada salah satu anggota parlemen Eva Sundari mengapa di Indonesia membutuhkan bisnis tembakau ini, ia (Eva) menggambarkan dari sudut pandang berbeda yaitu melindungi pekerjaan. Bisnis tembakau ini memperkerjakan 600.000 petani tembakau, menyerap banyak tenaga kerja dan memberi sumbangan pajak sebesar 7 miliar dolar per tahunnya.
Jika dilihat memang hal ini adalah sebuah dilema, bagai makan buah silamakama gtu, serba salah. Jika peraturan mengenai rokok diperketat, sehingga perokok berkurang. Dampaknya bisa ke petani tembakau, pajak negara yang menurun dari sektor tembakau ini. Tapi kalau dibiarkan perokok muda akan semakin banyak, dan jumlah orang yang sakit karena rokok semakin meningkat. Katanya sih (gak tau betul atau ngaknya, belum punya data) biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk sektor kesehatan lebih besar ketimbang pajak yang diperoleh dari rokok. Di perlukan solusi yang kreatif dan inovatif untuk menangani masalah kayak gini. Kalau dari individu masing-masing bisa memilih mana yang terbaik, tapi kalau dari segi kesehatan alangkah baiknya untuk tidak merokok. Semua sudah tau dampak negatif yang diberikan dari segi kesehatan maupun finansial bagi seorang perokok. Yang mau berhenti merokok pun butuh perjuangan yang kuat, perlu komitmen yang besar, namanya sudah candu, ,racun' nikotin menuntut untuk dipenuhi kedalam tubuh. Bagi pecandu rokok terkadang memilih lebih baik diputusin pacar ketimbang berhenti merokok, tuh akibat cinta dan candunya terhadap rokok. Yang belum rokok juga harus melakukan perjuangan juga, harus tabah walau ngk ngerokok. Ya, kadang teman pergaulan menganggap kita ngak gaul, nagk keren jika ngak merokok, diawali dengan ditawari, akhirnya mencoba-coba lama-kelamaan ketagihan. Butuh komitmen kuat juga untuk berani menolak, ngk takut 'diasingkan' teman karena ngak mau coba-coba untuk merokok.

Untuk yang mau membuka pandangan betapa parahnya budaya rokok di Indonesia bisa nonton nih dokumenter, berharap semoga kedepannya kebijakan pemerintah bisa mengatur dan meregulasi masalah rokok ini dengan lebih baik, jangan terjadi perokok amat muda seperti Aldi Rizal (walau nyatanya masih sangat banyak), kesehatan masyarakat bisa lebih baik. Dan mungkin yang mau mengurangi atau bahkan berhenti merokok bisa juga nonton nih dokumenter.

Semoga bermanfaat.....

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Terbaru