Hipertensi Jas Putih (White Coat Hypertension)

Hipetensi Jas Putih, lebih dikenal sebagai sindrom Jas Putih, adalah fenomena dimana pasien menunjukkan tingkat tekanan darah di atas normal, daka suasana klinis. Meskipun mereka tidak menunjukkan hal itu dalam situasi lainnya. Hal ini dinyakini bahwa fenomena ini disebabkan kecemasan bahwa mereka pengalaman menderita selama kunjungan klinik.

Artikel lain:

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/White_coat_hypertension.

 Pasien yang dirawt jalan perlu di cek tekanan darahnya pada siang hari sebagai refrensi untuk mengetahui tekenan darahnya dalam keadaan stres/tekanan sehari-hari. Banyak masalah telah dikeluarkan dalam diagnosis dan pemgobatan hipertensi jas putih.

Istilah "bertopeng hipertensi" dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena yang kontras, dimana tekanan darah pasien berada di atas kisaran normal selama hidup sehari-hari, meskipun tidak diatas kisaran normal ketika pasien dalam suasana klinik.

Diagnosa

Dalam studi, hipertensi jas putih dapat didefinisikan sebagai adanya tekanan darah hipertensi yang biasa terjadi dalam suasanan klinik, meskipun tidak terjadi ketika pasien dirumah.

Diagnosis dibuat sulit sebagai akibat dari tindakan tidak dapat dilakukan dari metode deteksi konvensional. Metode ini sering melibatkan interaksi antarmuka dengan perawat kesehatan profesional dan sering hasilnya menurun akibat temasuk daftar faktir yang mempengaruhi variasi tekanan darah individu/pasien. Ketidaktahuan teknis, kecemasan pasien, konsumsi zat penekan/pressor, dan berbicara adalah banyak faktor lainnya. Ukuran yang paling umum dari tekanan darah diambil dari instrumen non-invasif ( berarti tindakan medis yang tidak membutuhkan tubuh dimasuki, terutama tindakan bedah atau tes seperti biopsi. Sumber:http://spiritia.or.id/tj/bacatj.php?tjno=08010902) yang disebut spygmomanometer. "Sebuah survei mennunjukkan bahwa 96% dari dokter umum biasanya menggunakan ukuran manset terlalu kecil," manambah kesulitan dalam membuat diagnosis yang tepat. Untuk alasan tersebutm hipertensi jas putih tidak dapat didiagnosis dengan kunjuangan klinis standar. Hal ini dapat dikurangi (tetapi tidak dihilangkan) dengan pengukuran tekanan darah otomatis selama 15 sampai 20 menit di bagian tenang dari kantor atau klinik.

Penderita hipertensi jas putih tidak menunjukkn tanda-tanda indikatif gentar/ keraguan dan peningkatan tekanan darah mereka sering tidak disertai dengan takikardi (stilah yang merujuk pada laju detak jantung di atas normal. Detak jantung yang normal ialah 60-100 kali per menit. Sumber: www.kerjanya.net/faq/4360-takikardia.html). Hal ini didukung oleh penelitian yang berulang kali menunjukkan bahwa 15%-30% dari mereka diduga memiliki hipertensi ringan sebagai hasi dari kelinik atau kantor rekaman (tensi/detak jantung) menampilkan tekanan darah normal dan tidak ada tanggapan yang tidak biasa untuk stimulus tekanan. Orang-orang ini tidak menunjukkan karakteristik tertentu seperti usia, itu munkin menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap hipertensi jas putih.

Pemenatauan tekanan arah pasien rawat jalan dan pengukuran mandiri pasien menggunakan perangkat pemantauan tekanan darah di rumah, semakin sering digunakan untuk membedakan mereka hipertensi jas putih atau mengalami efek hipertensi jas putih dari orang-orang yang memang memiliki hipertensi kronis. Ini tidak berarti bahwa metode ini tanpa kesalahan. Hasil/nilai dari pemantauan rawat jalan siang hari, meskipun mengambil laporan/ pencatatan tekanan darah pada kehidupan sehari-hari pasien, diambil ketika rutinitas sehari-hari pasien, masih rentan terpengaruh efek dari variabel sehari-hari, seperti aktivitas fisik, stes dan durasi tidur. Pemantauan rawat jalan telah ditemukan untuk menjadi metode yang lebih praktis dan handal dalam mendeteksi pasien dengan hipertensi jas putih dan untuk prediksi kerusakan organ target (organ tertentu). Bahkan dengan demikian, diagnosis dan pengobatan hipertensi jas putih masih kontroverisal.

Studi terbaru meunjukkan bahwa pemantauan tekanan darah di rumah adalah sebagai monitoring/ pemantauan yang akurat, yaitu dengan rawar jalan 24 jam untuk menentukan tingkat tekanan darah. Para penelitian di Universitas Turku, Finlandia mempelajari 98 pasien dengan hipertensi yang tidak terobati. Mereka membandingkan pasien yang menggunakan perangkat tekanan darah dirumah dan mereka yang memakai monitor tewat jalan 24 jam. Peneliti Dr. Niiranen mengatakan bahwa "pengukuran tekanan darah di rumah dapat digunakan secara efektif untuk membimbing pengobatan anti-hipertensi  ". Dr. Stergiou menambahkan bahwa penelusran tekanan darah di rumah "lebih nyaman dan juga lebih murah dibandingkan pemantauan rawat jalan."

Penggunaan pola pernafasan telah diusulkn sebagai teknik untuk mengidenntifikasi hipertensi jas putih.

Dalam satu studi Turki dari 438 pasien berturut-turut, 38% adalah tekanan darah normal, 43% mengalami hipertensi jas putih, 2% telah bertopeng hipertensi, dan 15% telah mengalami hipertensi. Bahkan pasien yang meminum obat untuk hipertensi berkelanjutan, yang tekanan darahnya normal saat di rumah mungkin menunjukkan hipertensi jas putih saat di kantor/ klinik.

Implikasi untuk Pengobatan

Scara umu, individu dengan hipertensi jas putih memiliki morbilitas (angka kesakitan /peluang sakit) lebih rendah dibandingkan pasien dengan hipertensi yang berkelanjutan, namun morbilitas lebih tinggi dari tekanan darah normal secara klinis.

Namun, harus diingat bahwa semua diketahui setelah melakukan uji coba yang telah ditetapkan memiliki konsekuensi tekanan darah tnggi dan memanfaatkan pengobatan yang berdasarkan pada pengukuran satu kali saat suasana klinis daripada pembacaan umum yang lebih rendah saat tekanan darah diambil saat rawat jalan (dirumah).

Perdebatan dan saling bertentangan ide berkisar apakah metoda yang layak atau tidak untuk mengobati hipertensi jas putih, karena masih ada bukti meyakinkan bahwa kenaikan sementara tekanan darah selama kunjungan rumah sakit/ klinik memiliki efek buruk pada kesehatan.

Bahkan, banyak penelitian lintas bidang (cross sectional) telah menunjukkan bahwa "kerusakan pada organ tertentu (seperti yang dicontohkan oleh hipertrofi ventrikel kiri) kurang pada pasien hipertensi jas putih dibanding pasien hipertensi berkelanjutan bahkan setelah penyisihan/ penghapusan te;ah dibut untuk perbedaan tekanan klinik". Banyak yang percaya bahwa pasien dengan hipertensi "jas putih" tidak memerlukan pengobatan bahkan dengan dosis yang sangat kecil dari terapi antihipertensi karena dapat mengakiatkan hipotensi (keadaan ketika tekanan darah di dalam arteri lebih rendah dibandingkan normal dan biasa disebut dengan tekanan darah rendah.), namun harus tetap hati-hati karena pasien dapat menunjukkan tanda-tanda perubahan pembuluh darah dan akhirnya dapat mengembangkan hipertensi. Bahkan pasien dengan hipertensi yang telah ditetapkan terkendali dengan baik berdasarkan pemantauan tekanan darah dirumah mungkin mengalami pembacaan peningkatan selama kunjungan rumah sakit/ klinik.

Sumber: Tulisan ini semua diterjemahkan dan disesuaikan dari situs : https://en.wikipedia.org/wiki/White_coat_hypertension.

Semoga bermanfaat.... 

Baca juga:


Comments

Popular posts from this blog

Tips Lulus Psikotes

Penyebab tidak bisa mengupload program ke Arduino

Memperbaiki Charger Laptop (Terputus)